advertisement

18 Tarian Dari Aceh Beserta Gambar, Fungsi, Ciri-Ciri, Contoh, dan Penjelasannya


advertisement
advertisement
advertisement
advertisement
18 Tarian Dari Aceh Beserta Gambar, Fungsi, Ciri-ciri, Contoh, dan Penjelasannya
18 Tarian Dari Aceh Beserta Gambar, Fungsi, Ciri-ciri, Contoh, dan Penjelasannya

XASXUS.com - Aceh merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memang tidak dapat dipisahkan dari kebudayaannya yang sangat unik. Hal tersebut terlihat dari berbagai macam jejek peninggalannya, seperti pakaian adat, upacara adat, alat musik, senjata tradisional, sampai tarian tradisionalnya.

Berbicara mengenai tarian tradisional Aceh, tahukah kamu apa saja tarian tradisional dari Aceh? Nah berikut ini adalah 18 tarian dari Aceh beserta fungsi, ciri-ciri, contoh, dan penjelasannya.
Daftar Isi

1. Tari Seudati

Tarian dari Aceh yang ke-1 adalah Tari Seudati. Tari Seudati merupakan salah satu tarian dari Aceh yang termasuk ke dalam kategori Tribal War Dance atau tari perang. Menurut beberapa sumber, kata Seudati pada tarian dari Aceh ini berasal dari kata Syahadat. Menurut ajaran agama islam, syahadat adalah bersaksi atau sebuah pengakuan kepada Allah.

Karena tarian dari Aceh ini termasuk ke dalam tari perang, maka dalam pertunjukannya syair yang dipakai selalu membangkitkan semangat pemuda Aceh untuk bangkit dan melawan para penjajahan. Oleh sebab itulah jika tarian dari Aceh ini dahulunya pernah dilarang oleh bangsa Belanda. Namun dalam perkembangannya, tarian dari Aceh ini sudah kembali diperbolehkan dan menjadi Kesenian Nasional Indonesia.

2. Tari Saman

Tarian dari Aceh yang ke-2 adalah Tari Saman. Tari Saman merupakan salah satu tarian dari Aceh yang berasal dari kebudayaan masyarakat suku Gayo. Menurut sejarahnya, tarian dari Aceh ini diciptakan dan dikembangkan oleh seorang ulama dari Gayo di Aceh Tenggara, yaitu bernama Syekh Saman.

Menurut fungsinya, tarian dari aceh ini difungsikan sebagai media berdakwah, dan mencerminkan tentang keagamaan, pendidikan, kepahlawanan, sopan santun, kekompakan dan kebersamaan. Dalam pertunjukannya, tarian dari Aceh ini umumnya kerap dipentaskan di acara-acara penting dalam adat dan juga untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

3. Tari Rateb Meuseukat

Tarian dari Aceh yang ke-3 adalah Tari Rateb Meuseukat. Tari Rateb Meuseukat merupakan salah satu tarian dari Aceh yang dimainkan oleh beberapa wanita dengan menggunakan pakaian adat Aceh. Menurut sejarahnya, gerakan pada tarian ini diciptakan oleh Teungku Abdurrahim, dan syairnya yang diciptakan oleh Teungku Chik di Kala.

Secara umum, kata Rateb Meuseukat pada tarian ini berasal dari 2 suku kata, yakni Rateb dan Meuseukat. Kata rateb pada tarian ini berasal dari bahasa Arab yang artinya adalah ibadat. Sedangkan kata Meuseukat pada tarian ini berasal dari kata sakat yang artinya adalah diam.

Jika dilihat secara sekilas, banyak orang beranggapan bahwa tarian dari Aceh ini adalah tari Saman. Namun pada dasarnya tarian dari Aceh ini adalah Tari Rateb Meuseukat dan berbeda dengan Tari Saman, dimana terdapat beberapa perbedaan yang sangat jelas diantara kedua tarian ini.

Jika pada tari Saman ditarikan oleh para pria, maka pada tarian ini ditarikan oleh para wanita. Selain itu, jika pada pertunjukan tari Saman tidak diiringi oleh alat musik, maka dalam pertunjukan tarian ini diiringi oleh alat musik berupa rapa’i dan geundrang.

4. Tari Saman Meuseukat

Tarian dari Aceh yang ke-4 adalah Tari Saman Meuseukat. Tari Saman Meuseukat merupakan salah satu tarian dari Aceh yang berasal dari Aceh Selatan. Menurut beberapa sumber, tarian dari Aceh ini merupakan gabungan dari 2 tarian tradisional dari Aceh, yakni tari Saman dan tari Rateb Meuseukat.

Dalam pertunjukannya, tarian dari Aceh ini umumnya kerap dipentaskan di acara-acara penting dalam adat atau untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan dibawakan sekitar 10-12 para penari serta 2 orang sebagai penyanyinya. Untuk kostumnya sendiri, para penari dari tari Saman Meuseukat ini biasanya akan memakai pakaian adat Aceh.

5. Tari Ula-Ula Lembing

Tarian dari Aceh yang ke-5 adalah Tari Ula-Ula Lembing. Tari Ula-Ula Lembing merupakan salah satu tarian dari Aceh yang berasal dari Aceh Tamiang. Dalam pertunjukannya, tarian dari Aceh ini biasanya akan dibawakan sekitar 12 orang atau lebih dengan penjiwaan yang lincah dan ceria. Hal tersebut telihat dalam gerakannya yang berputar-butar mengelilingi panggung bagaikan ular.

6. Tari Didong

Tarian dari Aceh yang ke-6 adalah Tari Didong. Tari Didong merupakan salah satu tarian dari Aceh yang berasal dari kebudayaan masyarakat suku Gayo. Jika dilihat secara sekilas, Didong ini merupakan kesenian yang memadukan 3 unsur seni, yaitu seni tari, seni vokal, dan seni sastra.

Terdapat beberapa versi mengenai asal-usul kata Didong ini. Versi pertama mengatakan bahwa kata "didong" mendekati pengertian pada kata "denang" atau "donang" yang artinya adalah untuk menghibur hati, atau nyanyian sambil bekerja, atau bersama-sama dengan bunyi-bunyian. Sedangkan versi lain mengatakan jika kata "didong" berasal dari 2 suku kata, yaitu din dan dong, dimana kata "din" artinya agama, dan "dong" artinya dakwah.

Menurut sejarahnya, tarian dari Aceh ini sudah ada sejak zaman Reje Linge XIII dan diciptakan oleh seorang seniman bernama Abdul Kadir To`et. Konon katanya, Didong ini dahulu difungsikan sebagai sarana penyebaran agama Islam melalui media syair. Namun dalam perkembangannya, saat ini Didong kerap ditampilkan pada hari-hari besar agama Islam dan upacara-upacara adat, seperti khitanan, perkawinan, panen raya, mendirikan rumah, penyambutan tamu agung, dan lain sebagainya.

7. Tari Tarek Pukat

Tarian dari Aceh yang ke-7 adalah Tari Tarek Pukat. Tari Tarek Pukat merupakan salah satu tarian dari Aceh yang menggambarkan aktivitas para nelayan yang sedang menangkap ikan di laut. Menurut beberapa sumber, kata Tarek Pukat pada tarian dari aceh ini berasal dari 2 suku kata, yaitu Tarek dan Pukat. Kata tarek pada nama tarian ini artinya adalah tarik atau menarik, sedangkan kata pukat pada tarian ini artinya adalah alat sejenis jaring yang difungsikan untuk menangkap ikan.

8. Tari Ranub Lampuan

Tarian dari Aceh yang ke-8 adalah Tari Ranub Lampuan. Tari Ranub Lampuan merupakan salah satu tarian dari Aceh yang berasal dari wilayah Banda Aceh. Menurut sejarahnya, tarian dari Aceh ini diciptakan pada tahun 1959 oleh Yuslizar dan difungsikan sebagai tarian penyambutan tamu. Dalam pertunjukannya, para penari tarian ini umumnya akan menyambut para tamu dengan rasa penuh kehormatan dengan cara menyajikan sirih.

9. Tari Likok Pulo

Tarian dari Aceh yang ke-9 adalah Tari Likok Pulo. Tari Likok Pulo merupakan salah satu tarian dari Aceh yang difungsikan media berdakwah. Jika dirunut riwayatnya, tarian dari Aceh ini diciptakan pada tahun 1849 oleh seorang ulama tua berasal dari Arab yang konon katanya hanyut di laut dan terdampar di Pulo Aceh.

Menurut beberapa sumber, kata Likok Pulo pada tarian dari aceh ini berasal dari 2 suku kata, yaitu Likok dan Pulo. Kata "Likok" pada nama tarian ini artinya adalah gerak tari, sedangkan kata "Pulo" pada tarian ini artinya adalah Pulau Breuh atau Pulau Beras.

Dalam pertunjukannya, tarian dari Aceh ini umumnya lebih dimainkan pada posisi duduk bersimpuh, berbanjar, atau bahu membahu dengan gerakannya yang hanya berfokus pada gerakan anggota tubuh bagian atas, badan, tangan, dan kepala. Selain itu, tarian ini juga akan diiringi alunan musik dari alat musik tabuh berupa rapa'i.

10. Tari Meusago

Tarian dari Aceh yang ke-10 adalah Tari Meusago. Tari Meusago merupakan salah satu tarian dari Aceh yang melambangkan sifat gotong royong, persatuan dan persaudaraan. Hal tersebut terlihat dari gerakan para penarinya yang kompak dalam menarikan tarian dari Aceh.

11. Tari Cangklak

Tarian dari Aceh yang ke-11 adalah Tari Cangklak. Tari Cangklak merupakan salah satu tarian dari Aceh yang menggambarkan perempuan-perempuan Aceh dengan pesonanya. Dalam pertunjukannya, tarian dari Aceh ini umumnya dibawakan oleh para penari perempuan dengan gerakannya yang gemulai, energik, dan sedikit genit dengan dilengkapi atribut menari seperti payung, kipas, sapu tangan serta gelang kaki. Secara umum, tarian dari Aceh ini lebih mengedepankan sisi pertunjukan dan hiburan semata dengan diiringi oleh lantunan syair beserta alat musik berupa geundrang, dan serune kalee.

12. Tari Ratoh Duek

Tarian dari Aceh yang ke-12 adalah Tari Ratoh Duek. Tari Ratoh Duek merupakan salah satu tarian dari Aceh yang menggambarkan tentang interaksi kehidupan sehari-hari dan kekompakan masyarakat Aceh. Dalam pertunjukannya, tarian dari Aceh ini biasanya dimainkan oleh 11 wanita dan 2 syahie.

Jika dilihat secara sekilas, banyak orang beranggapan bahwa tarian dari Aceh ini adalah tari Saman. Namun pada dasarnya tarian dari Aceh ini adalah Tari Ratoh Duek dan bukanlah Tari Saman. Dimana terdapat beberapa perbedaan yang sangat jelas diantara kedua tarian ini, salah satunya terlihat pada para penarinya, yaitu jika pada tari Saman ditarikan oleh para pria, maka pada tarian ini ditarikan oleh para wanita.

13. Tari Pho

Tarian dari Aceh yang ke-13 adalah Tari Pho. Tari Pho merupakan salah satu tarian dari Aceh yang menggambarkan kesedihan dan hanya dipentaskan pada waktu kematian. Menurut beberapa sumber, kata Pho pada nama tarian dari Aceh ini berasal dari kata peubae yang artinya adalah meratoh atau meratap.

Dalam pertunjukannya, tarian dari Aceh ini umumnya dibawakan oleh para penari wanita dengan menunjukkan ekspresi kesedihan dan rasa duka cita. Namun dalam perkembangannya saat ini, tarian dari Aceh ini sudah tidak dibawakan pada waktu kematian lagi, melainkan lebih ditampilkan pada upacara-upacara adat.

14. Tari Guel

Tarian dari Aceh yang ke-14 adalah Tari Guel. Tari Guel merupakan salah satu tarian dari Aceh yang berasal dari kebudayaan masyarakat suku Gayo. Konon katanya, tarian dari Aceh ini mempunyai kisah yang panjang dan bukan hanya sekadar tari adat saja, melainkan kesenian yang terdiri gabungan 3 unsur seni, yaitu seni sastra, seni musik dan seni tari itu sendiri.

Menurut beberapa sumber, kata guel pada nama tarian ini artinya adalah membunyikan. Dalam pertunjukannya, tarian dari Aceh ini umumnya dibawakan oleh 2 kelompok penari, yaitu kelompok penari wanita dan kelompok penari pria dengan diiringi oleh alunan musik tradisional, seperti alat musik canang, gong, momong, dan gegem.

15. Tari Laweut

Tarian dari Aceh yang ke-15 adalah Tari Laweut. Tari Laweut merupakan salah satu tarian dari Aceh yang berasal dari Pidie dan sudah berkembang di seluruh Aceh. Kata "Laweut" pada tarian ini berasal dari kata Selawat atau sanjungan yang ditujukan terhadap junjungan Nabi Muhammad SAW. Menurut sejarahnya, dahulu tarian dari Aceh ini disebut akoon atau Seudati Inong. Namun dalam perkembangannya, nama tarian dari Aceh ini diganti bernama "Laweut" pada saat Pekan Kebudayaan Aceh II (PKA II).

16. Tari Bines

Tarian dari Aceh yang ke-16 adalah Tari Bines. Tari Bines merupakan salah satu tarian dari Aceh yang berasal dari kabupaten Gayo Lues. Tarian dari Aceh ini konon katanya pertama kali muncul dan berkembang di Aceh Tengah, akan tetapi kemudian dibawa ke Aceh Timur. Menurut sejarahnya, tarian dari Aceh ini diciptakan dan dikembangkan oleh seorang ulama dari Gayo di Aceh Tenggara, yaitu bernama Syekh Saman.

Dalam pertunjukannya, tarian dari Aceh ini umumnya dibawakan oleh para wanita dengan cara duduk berjajar sambil menyanyikan syair-syair berisikan informasi pembangunan atau dakwah. Untuk gerakannnya sendiri, para penari bines ini biasa akan melakukan gerakan secara perlahan-lahan namun berangsur-angsur menjadi cepat dan pada akhirnya berhenti seketika secara serentak.

17. Tari Rapai Geleng

Tarian dari Aceh yang ke-17 adalah Tari Rapai Geleng. Tari Rapai Geleng merupakan salah satu tarian dari Aceh yang berasal dari wilayah Aceh Bagian Selatan atau tepatnya di Manggeng. Jika dilihat secara sekilas, tarian dari Aceh ini terlihat menggambarkan sikap keseragaman dalam hal kerjasama, penuh kekompakan, dan kebersamaan dalam lingkungan masyarakat.

Dalam pertunjukannya, tarian dari Aceh ini umumnya dibawakan oleh 12 orang laki-laki dengan menggunakan kostum berwarna hitam kuning berpadu manik-manik berwarna merah. Untuk fungsinya sendiri, tarian dari Aceh ini difungsikan untuk menanamkan nilai moral kepada masyarakat, menyiarkan agama, dan menjelaskan tentang bagaimana hidup dalam masyarakat sosial.

18. Tari Rapai Daboh

Tarian dari Aceh yang ke-18 adalah Tari Rapai Daboh. Tari Rapai Daboh merupakan salah satu tarian dari Aceh yang menggabungkan unsur musik dengan kekuatan tubuh. Jika dilihat secara sekilas, tarian dari Aceh ini mempunyai kemiripan dengan atraksi Debus di daerah Jawa, dimana dalam pertunjukannya, para penari akan beratraksi dengan senjata tajam seperti sedang menikam tubuh.
Suka artikel berjudul 18 Tarian Dari Aceh Beserta Gambar, Fungsi, Ciri-Ciri, Contoh, dan Penjelasannya, Yuk bagikan ke: